Wednesday, 29 March 2017

Book Review : Novel "RINDU"- Tere Liye

22:32 8 Comments

Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Membaca kalimat yang tertera di bagian belakang novel Rindu ini rasanya seperti menemukan kata yang paling menarik diantara rentetan kalimat akhir novel Tere Liye yang lainnya, ketika saya berada di sebuah bazar buku di kota kami beberapa minggu yang lalu. 
Dan benar saja, ada berbagai macam perasaan yang mengalir begitu saja mengikuti alur ceritanya hingga khatam.

Sebuah novel dengan setting kehidupan di masa penjajahan Belanda, sekitar tahun 1938 silam. Ada banyak hal sekali pelajaran "sejarah" yang bisa kita ambil didalamnya. Tentang kereta 'term" yang pada saat itu ternyata sudah ada di Surabaya, tentang sejarah pahlawan-pahlawan nasional besar kita, juga cerita tentang keberadaan dunia malam ala Eropa di masa lalu.

Pertama membaca novel ini, kita akan disajikan tentang kehidupan diatas kapal uap pengangkut jamaah haji. (Dan saya baru tahu kalau jaman dahulu orang berhaji menggunakan kapal bisa memakan waktu sembilan bulan perjalanan. Subhanallahu). Sang penulis begitu fasihnya mengungkap detil kapal tersebut dan bahkan bisa membuat saya memebayangkan seolah-olah berada di kapal mewah Titanic. Eh *Beda jaman yach, kita*. 
Entahlah, membaca keadaan di dek kapal hingga tempat tiang-tiang layar dalam novel tak ubahnya melihat sendiri bayangan Jack dan Rose ketika melapangkan tangan berdua. *Plak. Dan lalu ada yang menampar saya*. Ahaha.

Isi ceritanya sendiri adalah tentang Keluarga Daeng Andipati dan keluarganya dengan dua anak yang manis riang dan menjadi penghibur di setiap cerita. Juga istrinya yang hamil di antara perjalanan beratnya menuju Jeddah. Tentang Gurutta sang alim ulama yang mampu menggerakkan seluruh kapal untuk tetap melaksanakan aktivitas keagamaan diatas kapal. Tentang  Ambo Uleng si kelasi penyelamat dari Pare-pare. Bonda Upe dan suaminya yang punya masa lalu kelam, dan juga  cerita Mbah Kakung dan Mbah Putri yang menyayat hati. Ada pula Chef Lars pemasak yang sangat handal, Kapten Philips yang bijaksana, Ruben si boatswin dan tentu saja Sergeant Lucas dan para tentara Belanda yang arogan di cerita.

Seperti yang telah saya sebutkan di awal. Cerita ini berhasil mengaduk berbagai macam perasaan saya. Pilu mendengar cerita si Bunda Upe bekas seorang Cabo di Macao Po. Ikut merasakan kebencian yang dimiliki Ambo UIeng terhadap hidup dan kisah cintanya. Sempat hanyut dalam air mata ketika membaca kisah cinta Mbah kakung dan Mbah Putri yang sampai tua masih tetap romantis namun  akhirnya harus dipisahkan oleh  meninggal nya Mbah Putri dan harus ditenggelamkan ke dasar lautan dengan logam berat (hiks. Sumpah sempat nangis pas baca bagian ini).
Dan yang membuat kembali bersemangat ada pada bagian epilog-nya yang manis. Yaitu kisah si Ambo Uleng  yang pada akhirnya ditakdirkan untuk menikah dengan gadis yang diselamatkannya di waktu kecil dulu, yang tak lain adalah anak dari orang tua perjodohan Sang Gurutta. Teman sekaligus guru yang mengajarkannya banyak hal selama diatas kapal. Dari rasa sakit hatinya karena "hampir" kehilangan kesempatan untuk menikahi gadis pujaan hati, hingga bersatunya semua kerinduan  yang terkumpul dari sudut kecil hatinya pada hal yang paling hakiki di dunia ini, yaitu kerinduan pada sang Maha Khalik diatas sana. Kerinduan yang sama-sama dimiliki oleh hampir semua penumpang di kapal, hingga mereka tiba di depan Ka'bah. Tujuan utama mereka.



Saturday, 25 March 2017

Be with someone who is proud to have you

07:44 18 Comments
Kalau diartikan judul artikel diatas kurang lebihnya adalah :
"Hiduplah bersama seseorang yang bangga memilikimu."
Sebuah postingan yang sempat saya capture dari akun ivan gunawan.
Entah kenapa kalimatnya terasa menggelitik ditelinga.

"Hiduplah bersama orang yang bangga memilikimu."
Jika membayangkan pesan positifnya maka mungkin yang ada dibenak kita adalah wajah seseorang yang  akan selalu menampakkan wajah cerianya disamping kita. Yang selalu bersedia menggandeng tangan kita, mengajak kita kemana-mana dan seolah olah ingin mengenalkan semua dunianya kepada kita sebagai bentuk rasa bangganya karena memiliki kita.

Bagaimana dengan orang yang tidak bangga memiliki kita? Hmmm, mungkin kita hanyalah orang yang akan selalu ada dibalik layar dari segala aspek dihidupnya.
Jangankan untuk diajak mengenal hidupnya. Untuk dikenalkan pada orang-orang terdekat aja, pasangan kita akan terkesan tidak serius dan ogah ogahan. (Nah lo buat yg jones jangan mautuh diginiin ya.)

Efeknya?
Untuk yang merasa pasangannya bangga, efek yang bisa ditimbulkan pastinya adalah perasaan bahagia. Ini sangat bisa dilihat dari pancaran diwajah nya. Dia akan merasa jadi wanita paling cantik/ pria paling tampan di dunia. Karena pasangannya yang akan tetap menggandeng tangannya di apapun dan bagaimanapun kondisi nya.
Tentu saja hal ini berkebalikan dengan orang-orang yang pasangannya tidak bangga memilikinya. Selain akan membuat ketidak PDannya muncul,mungkin juga perasaan tidak nyaman bisa jadi ikut menghampirinya. Akibatnya perasaan sedih akan menghinggapinya dan mempurukkannya pada perasaan terburuk dihatinya.

Cara mengatasi?
Cara mengatasi pasangan yang bangga pada kita adalah dengan terus  menggali kelebihan kita dan perlakukan pasangan sebagaiman perlakuan pasangan kepada kita. Agar perasaan cinta itu terus terpupuk dengan subur.
Untuk pasangan yang tidak bangga memiliki kita bisa kita atasi dengan meperbaiki diri kita agar lebih layak untuk dimiliki dan dibanggakan.
Kalau dia tetap tidak punya perasaan itu maka bagi pasangan yang menikah, lebih baiknya untuk dikomunikasikan berdua. Dan untuk pasangan yang belum ada ikatan pernikahan, lebih baik tinggalkan saja. Kita pantas mendapatkan orang yang lebih baik. Yang membahagiakan dan bangga memiliki kita :)

Salam.




Thursday, 16 March 2017

The other side of Jatim Park I

21:29 6 Comments


Tanggal 13 Maret 2017 kemaren, saya berkesempatan untuk mengikuti anak-anak didik saya study tour ke Jawa Timur, tepatnya di Malang. Ada empat tempat yang kami kunjungi dalam perjalanan sehari tersebut. Yaitu Ziarah di makam Asmara Qondhi (Bapak dari Sunan Ampel), Jawa Timur Park I, Museum Angkut dan makam Sunan Drajat.
Disini saya tidak akan membahas satu-persatu tempat wisata tersebut. Tapi khusus akan membahas mengenai Jatim Park I. 

Seperti kita ketahui bahwa wisata Jatim Park I ini adalah wahana wisata sekaligus edukasi. Karena didalamnya, kita tidak akan hanya menemukan wahana permainan sebagai obyek wisata yang asyik untuk anak dan keluarga, tapi juga wahana edukasi mengenai sejarah, kebudayaan bahkan percobaan IPA.
Tentu saja ini cocok sekali jika dijadikan salah satu destinasi wisata untuk anak-anak kita dikala liburan tiba.

Setelah mengalami renovasi dan sempat ditutup dibeberapa bagiannya ketika kunjungan saya setahun yang lalu. Tahun ini Jatim Park tampil dengan wajah baru. Meski tema wisata sekaligus edukasi yang diusungnya masih sama, cuman kondisi fisik didalam dan luarnya jadi lebih berbeda.

Pertama kali masuk didalamnya kita akan diauguhkan dengan kebudayaan adat istiadat dan tradisi daerah-daerah diIndonesia yang sekarang jalannya dibuat searah. Sehingga kita tidak akan melewatkan satupun anjungan yang ada didalamnya. Pun ketika kita sampai di wahana percobaan IPA. Jalan yang masih searah itu membuat kita lebih mudah mengikuti alur pembelajaran yang disajikan. Dan tentu saja hal ini bisa meminimalisir terjadinya tragedi anak yang tersesat. And i think it's so briliant!

Nah, setelah melewati semua sajian dalam wisata edukasi di Jatim Park, untuk selanjutnya kita bisa memilih area permainan yang kita suka. Bisa yang di indoor maupun outdoor. Permainan-permainan ini banyak  diantaranya yang bisa memacu adrenalin kita. Ada beraneka ragam  permainan yang bisa kita pilih sesuai dengan  "nyali kita". Hmmm, sudah kebayang serunya pasti, ya?
Tak lupa ada juga bermacam kantin atau restoran buat "isi perut" setelah kita capai berkeliling.

Bagi sebagian orang yang tidak begitu suka dengan permainan yang bisa "memacu adrenalin" seperti saya *uhuk*, jangan kuatir. Ada beberapa pilihan tempat yang bisa kita kunjungi untuk membunuh waktu.

1. Stand photo studio
Stand yang satu ini adalah favorit saya sejak 2 tahun terakhir ini. Karena mungkin, terkadang kita kehabisan ide untuk memebelikan oleh-oleh bagi saudara kita yang masih kecil. Dan oleh-oleh berupa kaos berlatar Foto dan icon Jatim Park ini adalah salah satu oleh-oleh yang paling pas menurut saya.
Untuk fotonya boleh pakai foto yang disediakan oleh studio tersebut atau mengambil dari koleksi foto di galeri HP kita.
 Tahun yang lalu, saya membawakan kaos bergambar foto Staff yang sedang melakukan perayaan ultah ke-4 di sekolahnya. Jadi ada foto saya, papahnya dan Dhaff di belakang kue tart bergambar kereta thomas. 
Tak dinyana kaos tersebut malah bisa jadi media untuk sekaligus mengenalkan  "konsep keluarga" kepada Dhaff.
Jadi rasanya senang sekali ketika memakaikan kaos pada Dhaff, dia akan nyeletuk bilang "ini Mamah, papah dan Dhafin" katanya berulang-ulang :)

Dan untuk tahun ini saya membuatkan kaos bergambar Dhaff yang sedang naik sepeda baru hadiah ultah dari papahnya. Sekali lagi, dia tampak senang dan gembira ketika melihat fotonya yang sedang nangkring di atas sepeda. "Ini dhafin Mah. aku sudah bisa naik sepeda, ya." katanya dengan bangga.

Ini dia penampakan Dhaff dan kaos barunya. Yeaay.
Oleh karena itulah, tiap kali kesini. Stand studio foto inilah yang selalu jadi tujuan utama saya. Selain membuat kaos. Kita bisa banget membuat foto keluarga disana sebagai kenang-kenangan. Dengan background aneka wahana wisata yang kita inginkan. Harganya sekitaran Rp. 20.000 - 35.000  an.

Untuk kaos sendiri, harganya sekitaran Rp 50.000- Rp 75.000 bergantung pada ukuran.
Yang ini ukuran S harganya Rp 70.000,
2. Bioskop 3D


 Duduk manis dengan suguhan film 3D yang menarik ini bisa banget buat dijadikan pilihan. Selain tidak menghabiskan tenaga, duduk disini biasanya saya manfaatkan untuk "ngadem". Hihihi. Ceritanya juga seru-seru kok. Namanya juga bioskop 3D, otomatis kita juga akan dipinjami kacamata 3Dnya. Btw, awas ati-ati yaa. Ada beberapa tempat duduk yang dekat dengan semprotan air, yang akan muncrat secara tiba-tiba jika ada scene airnya. Hmmm, mau?

3. Menikmati cilok di kantin
Di area dekat pembuatan kaos, ada juga kantin yang berjualan makanan khas jatim. Dan uniknya, ada juga yang jual cilok loh. Dengan harga lima ribu perak, kita bisa nikmatin deh satu porsi cilok. 

4. Berenang
source : tempatwisatadaerah.blogspot.com

Yup. Buat yang hobbi berenang, di Jatim Park I ini juga ada fasilitasnya loh. Dari yang kolam buat latihan olahraga air. (Kebetulan kemarin menemukan gerombolan anak-anak dari sekolah tertentu yang asik bermain bola air) dengan kolam renang yang sudah diberi batas seperti lapangan gitu. Sampai kolam rennag yang full permainan ala water boom gitu. Dan pengunjungnya jangan ditanya ya. Rameeee banget. 

Nah gimana? Mau coba salah satunya ketika berwisata di Jatim Park I? jangan lupa bagi ceritanya juga yaa.



Saturday, 11 March 2017

HUZZI FIRDAUS AL HARITS

18:25 14 Comments

"Apa bahasa arabnya sedih atau kesedihan?" Tanyaku pada ibu yang saat itu ada di dekatku.
"Huzzi" jawabnya sembari berlalu untuk mengepaki baju yang akan dibawanya pulang.
Aku menyeka sisa-sisa air mataku, sebelum akhirnya bilang "Iya, adek beri nama HUZZI FIRDAUS AL HARITS saja, bu."
"Tulis di kertas saja" kata beliau  kemudian.
Aku menggunakan sisa-sisa tenaga pasca cesar tadi pagi. Jadi mungkin nada bicaraku masih sangat lemah dan membuat beliau agak kesulitan mendengarkanku. 

Tak berapa lama suamiku datang untuk menjemput. Sekaligus mengantar jasad bayi kami kerumah. 
Ibu memelukku sebentar sebelum berpesan "Sing sabar ya, nduk. Sing ikhlas."
Aku hanya menatapnya tanpa menjawab. Kuanggukkan kepalaku pelan. "Doakan aku kuat ya bu." ujarku lirih. Ibu mengecup keningku. Tak lupa aku ulurkan gulungan kertas berisikan tulisan nama lengkap huzzi kepadanya.

Sepeninggal mereka, aku kembali membalikkan badan. Mengeluarkan semua isak yang sedari tadi sudah kutahan-tahan.
Ini dua kalinya aku merasa kehilangan. Tawa kegembiraan yang sedianya ingin aku hadirkan di kedua mata ibuku dan suamiku ternyata tak bisa kuberikan. Untuk sekali lagi aku malah kembali menghadirkan tangis itu lagi. Tangis yang ada pada kelahiran anak pertamaku dulu, empat tahun yang lalu. Dan kini, untuk kedua kalinya akulah yg menyebabkan tangis mereka itu kembali ada. (Hiks. Maafkan).

Aku terhenyak ketika ada sms masuk. Ternyata dari suamiku yang menanyakan nama bayiku yang akan dituliskan pada batu nisan, sebelum dimakamkan. 
Entah kenapa ketika mengetikkan namanya, ada perasaan tidak enak muncul dalam benak. Aku sudah terlalu sedih, kenapa harus memberi nama sedih untuk bayiku yang sudah tidak ada? Ah, bodohnya aku!

Belum selesai aku menuliskan nama lengkapnya, dering nada pesan kembali masuk.
Kali ini dari ibuku.
"Nduk kemaren itu ibu bilange husni bukan huzzi. Gimana?" 

Ah, tiba-tiba aku merasa lega. 
Kubalas pesan ibuku lebih dulu. "Iya bu, gakpapa. Huzzi aja."
Aku ganti mengirim pesan untuk suamiku. "HUZZI FIRDAUS AL HARITS itu namanya adek ya pah." 

Entah kenapa kali ini aku sedikit bisa merasakan lega. Karena akhirnya menemukan nama bayi yang lebih baik daripada sebelumnya. Yaitu :
HUZZI FIRDAUS AL HARITS.

Karena "huzzi" tidak ada penjelasan artinya, maka anggaplah itu nama kesayangan khusus dari kami yang mencintainya. "Firdaus" berarti surga. "Al harits adalah nama lain untuk nabi Muhammad SAW. 
Jadi kurang lebihnya  artinya adalah anak kesayangan  dari umat Muhammad yang ada di surga.
Nama yang kami berikan sebagai  pengingat untuknya jika kami diijinkan untuk bertemu dengannya kembali, kelak. Di sebenar-benar rumah-NYA.

Satu-satunya foto alm. Huzzi yang aku punya. Bismillah. Ilarruhi Huzzi. Al faatihah ;'(.











Friday, 3 March 2017

KULINER DI HATI, KULINER DARI NEGERI SENDIRI

04:56 30 Comments



"Mau makan di restoran… (pa..dang)"
"Bukan berarti harus ke… (paa..dang)"
"Cukup ada disini, dekat kita sendiri. Kita tinggal menikmati"

Penggalan lirik lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Enno Lerian di jaman (kecil)-ku dulu, cukup sekali mengingatkan bahwa selain keanekaragam budaya, negeri kita juga kaya akan kulinernya.
Dan seperti yang dituliskan pada lagu itu sendiri, sebenarnya sangat mudah bagi kita untuk mendapatkan makanan yang berasal dari luar daerah sekalipun, karena sekarang banyak sekali ditemukan makanan khas daerah tertentu di sekitar kita.

Ehm. Dalam rangka ikut meramaikan ultah #2thGandjelRel kali ini, aku ingin membahas beberapa kuliner dari negeri kita tercinta ini, yang jadi makanan favoritku. Bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena akses mudahnya jangkauan yang harus aku lalui untuk mendapatkannya.
Kuliner dihati, kuliner dari negeri sendiri. Hmmm, benar seperti itu adanya bagiku. Meski diluar sana ada banyak ragam kuliner dari negara lain yang “sepertinya” menggoda. Tapi rasanya tidak bisa bohong, kalau kuliner dari negeri sendiri jauh lebih enak, mantap dan cocok bukan hanya di lidah, tapi juga dihati, juga dikantong *tsaaah*.
Dan berikut adalah kuliner dari negeri sendiri yang untuk mendapatkannya pun tak perlu jauh-jauh dari daerahku sendiri. Sebuah kota kecil di kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Yaitu Purwodadi.

1.       Sego Pager


Dari namanya apa sih yang kalian bayangkan? Kalau bayangan kalian berupa nasi dengan lauk bamboo, baja, batako goreng atau apapun bahan untuk membuat pager, itu salah banget!. Karena sego pager ini adalah perpaduan antara nasi gudangan (urap) dan pecel. Dimana sayur hijau diiris, dicampur dengan kecambah dan lamtoro. Diatasnya diberi kuah sambel pecel dan taburan Uyah Goreng (terbuat dari parutan kelapa dan garam).
Istilah pager diambil karena konon, sayuran yang dipakai adalah jenis sayuran rambat yang ada di pagar-pagar rumah gitu. Hihihi. Lucu ya? Tapi yang jelas sayuran hijau ini sayuran yang sehat dan penuh zat besi loh ya.
Sego pager atau sego janganan (ada sebagian orang yang menyebutnya demikian) ini biasanya disajikan diatas pincukan daun pisang. Dan dilengkapi oleh lauk berupa gorengan seperti bakwan, mendoan, tempe gembus, kerupuk ataupun peyek.
Untuk rasa sendiri, menurutku menu ini punya rasa yang paling komplit jika dibandingkan nasi pecel atau nasi gudangan. Rasa pedas manis didapat dari kuah sambal pecelnya, asin  dan gurih dari taburan uyah gorengnya.
Meski sepertinya makanan ini sudah begitu dikenal, tapi tidak semua daerah di Purwodadi ada loh. Sego pager yang khas ini  hanya bisa ditemui di sekitar penduduk kecamatan Godong (sekitar 18 km dari Purwodadi). Tapi terkadang, ada satu-dua penjual yang berjualan di Car free day. Setiap hari minggu di sepanjang jalan R. Soeprapto di kota ini.

2.       Swieke


Kalau ditanya apa sih makanan khas dari Purwodadi. Jangan heran kalau jawabannya “swieke”. Karena emang dari dulu, daerah kami ini sudah sangat terkenal dengan “swieke” yang berisikan daging kodok. Pernah makan? Belom. Hihihi. Maklum, kodok adalah salah satu hewan yang tidak diperkenankan untuk dimakan bagi muslim seperti kami. Jadi dari kecil cuman bisa lihat gambar atau penampakannya. Dan belum pernah sekalipun mencicipi. J
Tapi, jangan khawatir. Seiring kreatifitas para pengusaha kuliner di negeri ini, sekarang swieke ini  tidak hanya berisikan daging kodok loh. Tapi juga daging ayam ataupun menthok.
Terbuat dari irisan bawang putih, geprekan jahe, kecap manis, gulgar, lada, plus tauco, kuahnya ini sangat segaarr untuk dinikmati. Ditaburi dengan  irisan daun bawang dan perasan jeruk limau (bagi yang suka), masakannya cocok banget buat dimakan panas-panas waktu hujan turun. Hmmm. Buat penyuka soto, boleh banget dicoba buat perbandingan rasanya nih ya.

3. Es Krampul


Minuman dingin yang satu ini adalah minuman khas warung HIK di Purwodadi. Sebenarnya, cara buatnya sederhana. Cuman, bermodalkan jeruk  dan air teh serta es batu (atau es kristal).
Dari namanya "krampul" yang artinya mengapung. Jeruk pada minuman ini tidak diperas. Tapi tinggal diiris dan dimasukkan ke dalam air es teh sehingga terlihat mengapung di permukaan. Inilah yang menjadi ciri khas dari es krampul. 
Es krampul ini aman buat pecinta jeruk tetapi punya penyakit pencernaan seperti aku. Karena efek asam dari jeruknya tidak begitu kuat. Tertutupi oleh rasa manis es tehnya. Rasanya? Jangan ditanya. Inilah es paling segarrrrrrr di mata eh di tenggorokan saya. Hehe.
Gak perlu jauh-jauh ke Purwodadi ya. Bisa bikin sendiri di rumah kok. Dulu, pas hamil kalau morning sickness tiba, aku sering bikin ini juga untuk mengurangi mual. Tapi bikinnya yang hangat-hangat kuku, tanpa es . Alhamdulillah, cocok binti sukses buat enggak bikin mual lagi.

4. Wedhang Cara (coro)


Minuman khas yang satu ini bukan asli dari Purwodadi. Tapi bisa kita temui di Purwodadi. Untuk asalnya sendiri sebenarnya dari kabupaten lain, yaitu Pati. Wedhang coro ini adalah "bajigur" nya Jawa Tengah. Terbuat dari rempah-rempah pilihan, wedhang coro ini cocok banget diminum disuasana dingin. Karena fungsinya untuk menghangatkan badan. Dijamin, pasca minum ini selain badan hangat, kita juga bisa berkeringat. Cocok buat yang sedang ngalamin perut kembung atau gejala masuk angin.

5. Mie Kopyok Balungan


Mie kopyok sudah pasti bukan makanan yang asing bagi orang Jawa Tengah ya? Meski namanya sama, biasanya berbeda-beda isiannya. Nah, salah satu mie kopyok favorit di kotaku adalah mie kopyok balungan ini. Rasanya enak, porsinya cucok (lumayan gede kalo buat orang semini aku sih), harganya standar. Di kota kami inipun ada beberapa warung mie kopyok yang penyajiannya berbeda loh. Ada mie kopyok "ojo dumeh" yang terkenal pedasnya karena menggunakan sambel setan dalam penyajiannya. Ada mie kopyok yang pakai taburan kacang tanah diatasnya. Pun ada mie kopyok balungan seperti yang ada pada gambar di atas. Semuanya tinggal selera sih, mau pilih yang mana.


6. Kesusu (Ketan Susu) Durian


Wow. Ini dia kesukaanku. Sesuai dengan namanya, ketan susu durian ini adalah kombinasi antara ketan, susu dan durian. Proses memasaknya agak lama sih. Harus nunggu duriannya di"masak" dulu hingga meleleh dan dicampuri dengan susu, kemudian di lumurkan diatas ketan. Nikmattt. Khususon pecinta durian, makanan yang satu ini patut dicoba banget-banget loh. Meski bukan asli dari Purwodadi juga, alhamdulillah gak perlu jauh-jauh. belinya. Ada warung khusus ketan di kota kecil kami ini. Dan untuk yang durian ini, cuman ada di waktu-waktu khusus adanya. Yaitu ketika sedang musim durian tiba. Hmmm.

7. Rujak Parut



Sebagai penutup,mau munculin kuliner seger yang ini dulu, ah. Rujak parut! Mungkin kuliner yang satu ini paling tidak "asing" buat kalian ya? Karena bisa dengan mudah ditemui even bikin sendiri dirumah. Ngemeng-ngemeng soal rujak, menurutku ada dua jenis rujak. Yaitu rujak iris dan parut. Dari keduanya, aku lebih suka rujak parut. Sesuai namanya, semua buah disini cara penyajiannya adalah dengan diparut terlebih dahulu. Kecuali pepaya (karena teksturnya jadi hancur kalau di parut). Trus baru deh dituangin sambal kacang gula jawanya. Jangan lupa, parut juga es batu diatasnya ya. Biar segarnmya lebih terasa.

Hasil jepret kuliner menggunakan ASUS Zenfone selfie. Kualitas gambarnya juara.

Yeaaay, akhirnya terpampang nyata sudah tujuh kuliner asli negeri sendiri  yang selalu ada dihatiku ini. Gimana? udah pada mupeng belom? Hihihi. FYI, semua gambar disini adalah dokumentasi pribadi hasil jepretan  #Zenfone5 dari HP #ASUS ku loh. Dan seperti kita ketahui ASUS dengan kekuatan pixelmaster camera-nya urusan cekrek cekrek upload ini hasilnya begitu weowe begete. Selain jernih, hingga detail fotonya bisa terlihat jelas, video dan foto-nya yang anti blur, efek beautufication-nya juga sangat-sangat membantu untuk mempercantik tampilan kita (kita? lo aja kaleee *uhuk*), Disamping itu ada juga mode smart remove yang fungsinya untuk menghilangkan orang/ benda bergerak yang tidak kita inginkan ada di foto syantyik kita loh. Hmmmmm, gimana? Masih mau pakai HP selain ASUS? jangan ngiri kalau hasilnya tak sejernih foto-fotoku diatas tadi  lo yaaa.. *kibas jilbab*.


Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel

Thursday, 2 March 2017

KULINER ASELI DAERAH SENDIRI YANG SELALU DIHATI

05:14 8 Comments




Pernahkah ketika suatu saat kita pergi, lantas terbayang-bayang satu masakan yang menurut kita sudah “di hati” sekali? Hmmm, aku pernah banget. Membayangkan makanan kuliner favorit tiba-tiba sudah tersedia di depan mata, padahal posisi diri sedang berada di ratusan kilometer jauhnya.

Ya. Itulah kuliner yang menurutku sudah di hati banget. Kuliner yang berasal dari daerahku sendiri. Sebuah kota kecil bertaraf kecamatan di sebuah provinsi Jawa Tengah.  Terletak di sebelah timur sekitar 30km dari ibukota provinsi, Semarang. Purwodadi, demikian ia selalu disebut. Merupakan tanah kelahiran yang kucintai.

Tak banyak kuliner asli daerah yang bisa ditemui sebenarnya, tapi kuliner berikut menambah referensi makanan yang mungkin bisa even patut banget buat dinikmati :

1.    1Swieke Kodok, kuliner ekstrim asli Purwodadi
Sohibs semua pasti sudah seringkali mendengar bahwa Purwodadi adalah salah satu penghasil kuliner ekstrim macam ini. Entah bagaimana asalnya, cuman dari sejak aku lahir, swieke kodok sudah menjadi makanan khas kota ini yang terkenal dimana-mana.

Banyak sekali warung di pinggiran yang menjual swieke kodok ini. Tapi sampai sebesar ini pun, aku belum pernah sama sekali mencicipinya. Karena sebagai orang muslim, aku dan beberapa muslim yang lain menyadari bahwa kodok adalah salah satu hewan yang disebut dalam kitab kami untuk tidak dikonsumsi.

Tapi jangan khawatir, sekarang ini swieke tidak hanya dibuat berisikan daging kodok. Namun ada juga swieke menthok, maupun swieke ayam yang pastinya aman binti halal untuk dinikmati.

Kuah segarnya cocok banget dimakan di suasana dingin seperti ini. Terbuat dari geprekan bawang putih(boleh juga diiris sesuai selera), jahe, kecap manis,gulgar, lada bubuk dan tauco, swieke ini terasa hangat di tenggorokan dan di perut. Kalo ingin lebih hangat bukan hanya di perut tapi juga dimulut, boleh banget tambahin irisan cabai. Biar ada asem-asem segernya jangan lupa perasin jeruk nipis/limonya ya. Hmmmmh, sweegggeerrr *ngelapiler*.

Penampakan Swieke Ayam via Zenfone5
Bahan tambahan untuk memeper'segar' rasa kuahnya
Nasi, swieke dan sate "jeroan" semakin cantik dalam jepretan kamera Zenfone5

2Sego pager yang gak bikin "mager"
Hah?Sego pager? Iya. Sego pager. Tapi eitts, tunggu dulu. Jangan bayangin yang aneh-aneh. Sego pager dalam bahasa Jawa atau Nasi pagar dalam bahasa Indonesia ini bukan yang terbuat dari pagar bamboo, atau baja apalagi batako goreng gitu lo yach. Pager disini cuman buat istilah aja. Karena penjualnya biasanya tidak buka warung khusus. Cuman ada diemper2 dekat pagar rumah mereka atau di emper-emper trotoar jalan (yang bersih pastinya).

Berisikan sayuran hijau yang diiris-iris, kuliner yang satu ini dipastikan mengandung banyak zat besi-nya. Nah kan? Gimana bisa males gerak, kalau makanannya sehat begini. *angkat patung
besi sembari pamerin otot*.

Selain berisikan sayuran, sego pager ini juga ada kecambah dan lamtoronya. Disiram kuah pecel lalu ditaburin yah goreng. Hmmmm, sedaaapp. Cocok dilidah orang jawa yang njawani begini . Hihihi.

Jadi, sego pager ini adalah kombinasi antara nasi pecel dan nasi gadungan. Ups,nasi gudangan atau urap, ya. Bedanya ada yahgoreng. Yahgoreng ini adalah parutan kelapa dan garam. Hmmmm, jadi deh sego pager dengan rasa yang lengkap, manis, pedes, asin dan gurih sekaligus.

Makan disela-sela kesibukan. Jepretin dulu pakai ASUS Zenfone selfie, biar hasil fotonya maksimal



Gimana? Ada yang mau coba? Mampir ke purwodadi, yuuuk...



(Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel)










Thursday, 23 February 2017

Malaikat bernama FILZA

08:03 35 Comments
Bidadari kecilku

Bagi seorang ibu, kehilangan anak adalah hal yang sangat menyedihkan. Terutama bagiku, yang bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Dari tiga kali kehamilan cesarku. Dan seperti kata sebagian penulis bahwa "Writing is healing" sepertinya sebuah ide bagus untuk aku coba menuliskan apa yang sudah sangat jauh sekali aku pendam. Siapa tahu, rasa sakit, sedih ataupun perasaan apapun yang masih acapkali muncul itu bisa aku kurangi :)

Untuk itulah dalam kesempatan kali ini, aku ingin mengisahkan kehamilan pertama yang berakhir dengan meninggalnya putri pertamaku (Alm) Filza di usianya yang ke 6,5 bulan sekaligus menjawab pertanyaan banyak orang ihwal kelahiran hingga kepergiannya itu.
                   
                                                                              ***

Pengalaman kehamilan
Umur pernikahan kami saat itu adalah 8 bulan ketika suatu hari di bulan juni 2009 aku dinyatakan hamil. Tepat beberapa minggu sebelum hari ulang tahun suamiku. Untuk itulah kertas hasil lab dari RS lah yang kujadikan hadiah ulang tahun bagi suamiku.

Tapi sayang, bulan Agustus awal, aku yang setiap hari harus melaju ke tempat kerja sejauh 36 km pulang pergi itu mengalami keguguran karena efek kecapean.

Bulan Januari  tahun berikutnya aku mengalami hamil yang kedua. Rasa bahagia kembali menyelimuti keluarga kami. Setelah penantian yang agak lama itu.
Tidak ada halangan yang berarti pada awalnya, kecuali perubahan emosi yang naik turun dan  sering tidak pernah bisa kukendalikan. Ditambah jauhnya posisi kerjaan suami, sehingga rasa sensitif itu semakin "menjadi-jadi". Maklum, hamil pertama, jadi seperti butuh perhatian khusus dan penuh. Hehe. Hingga pada akhirnya, hari ketiga di hari lebaran tahun 2010 atau usia 7 bulan kehamilanku, ada sesuatu yang "berbeda" kurasakan.

Kelapa muda dan kelengkeng kalengan
Saat itu, kami bersilaturahmi ke rumah salah seorang sanak saudara yang ada di luarkota. Sepulangnya dari sana, kami diberi buah tangan berupa beberapa gelintir kelapa muda. Kebetulan sekali, di rumah ada beberapa kelengkeng kalengan  isi dari parcel lebaran. Satu gelas es kelapa muda dengan isian kelengkeng kalengan mendarat dengan sejuknya di tenggorokan dan perutku. Tapi itu tidak beberapa lama. Karena beberapa jam kemudian, aku merasakan kram pada seluruh tulangku. Terutama perut hingga tembus bagian belakang. Aku sampai meraung-raung kesakitan. Sempat tertidur sejenak. Tapi tiba-tiba seseorang dengan pakaian hitam-hitam terlihat tengah mendorong kasurku hingga kesebuah lautan luas. Akupun berteriak dan menangis ketakutan. Aku merasa terombang-ambing sendirian ditengah lautan yang isinya cuman air itu. Aku berusaha mencari pegangan. Dan disaat itulah aku tersadar bahwa ternyata aku sedang bermimpi. Ketika terbangun, pegal itu masih saja kurasakan. Karena aku sudah tidak tahan, maka aku menungu suami pulang untuk periksa ke RS. 
Anehnya, rasa sakit itu seperti menghilang ketika aku berada di RS. Dan muncul kembali ketika aku berada di rumah. Kejadian ini berulang hingga tiga kali. Hingga pada akhirnya, di RS yang ketiga ada seorang bapak tua yang berkata kalau bisa jadi aku kena "sawan". Beliau menyarankan agar ibuku mengoleskan ampas minuman tadi ke seluruh perutku sembari membaca doa serta shalawat.
Sesampainya dirumah, ibuku menuruti anjuran Bapak tua tadi. Dan benar saja, malam itu aku tertidur tanpa keluhan sampai esok paginya.

Penasaran 
Hari berikutnya, rasa penasaran akan kondisi bayi seperti menghantui. Takut kenapa-napa pasca kejadian "sawan" yang aku alami. Akhirnya, aku mencoba untuk pergi ke dokter kandungan langgananku. Tetapi karena masih suasana lebaran. Klinik itupun masih tutup. Aku baru bisa periksa dua hari setelahnya.

Hasil USG yang mengejutkan
Akhirnya, setelah mengantri beberapa jam giliranku diperiksa datang juga. Setelah dipersilakan untuk membaringkan diri, dokterpun memulai aksinya didepan USG. Kulihat sang dokter mengernyitkan dahinya. Beliau juga mengulangi pemeriksaan hingga berulang-ulang, sebelum menarik napas dan memberitahuku ada kejadian yang janggal. 
Kata beliau, ada pembesaran kepala di janinku. Aku yang saat itu periksa sendirian rasanya lemas seketika. Dokterpun memberiku rujukan untuk tes lab berkaitan dengan TORCH di RS terdekat di kota kami, dan segera kembali ke kliniknya untuk melihat hasilnya.

Tes Lab dan hasil diagnosa dokter
Ada beberapa tes yang harus aku jalani hari itu, yaitu pengecekan untuk virus Toxoplasma, Rubella, HPV dan CMV. Aku merasa bergetar ketika menerima hasil tesnya. Berbagai macam ketakutan seolah timbul tenggelam di kepala. Aku melajukan motor dengan sangat pelan sambil berdoa semoga tidak terjadi apapun juga pada janinku. Janin yang sudah sangat kami nanti-nanti kedatangannya.

Sesampai di tempat praktek dokter, aku jadi prioritas utama untuk masuk kedalamnya (terimakasih dok!). Dokter sudah menungguku dengan cemas. Ketika membaca hasil, beliau kaget. Karena ternyata hasil lab-ku negatif semua. 

Merasa tidak bisa menangani kasus kehamilanku, beliau memberiku pilihan untuk dirujuk ke RS di kota besar terdekat dari kota kecil kami ini. Antara Solo dan Semarang. Karena kakak-kakaku kebanyakan tinggal di Solo dan mengingat suami yang masih ada jauh di luar kota sana, maka aku memutuskan untuk di rujuk ke Solo. Oleh sang dokter aku dirujuk ke seorang dokter spesialis penyakit kehamilan. 

Dua dokter sekaligus
Di Solo, aku bertemu dengan dokter yang terkenal menangani penyakit kehamilan. Dokter Sulis, sperti itulah beliau biasa di sebut ( yang sesungguhnya, nama panjangnya aku sudah lupa). Beliau tampak manggut-manggut ketika aku menyodorkan surat rujukan beserta hasil lab. 
Kata beliau, karena janin masih didalam perut, maka belum ada penanganan yang bisa dilakukan. Untuk penangannya sendiri, menunggu janin sudah besar nanti diambil cairan dalam otaknya (Hiks, denger penjelasan beliau itu, bulu kudukku langsung merinding, mataku mungkin sudah sangat berkaca-kaca, tapi airnya tak sampai jatuh. Dada dan hatiku saja yang rasanya sangaat bergemuruh). 
Karena tak ada penjelasan dan penanganan lainnya, maka aku setuju ketika kakakku menyarankan untuk mencari second opinion ke dokter kandungannya. Seorang dokter kandungan terkenal dari sebuah RS swasta terkemuka di kota Solo. Dokter Shoffin namanya (ini nama lengkapnya aku juga sudah lupa. Maafkan ya).

Di Klinik Dokter Shoffin
Kami datang ke klinik disertai hujan yang sangat deras. Menunggu kakak pertama datang untuk mengantar rasanya seperti berabad-abad lamanya. Ditambah kecemasan rasanya seperti menambah buruk keadaan.
Pun sesampainya disana, antrian panjang masih tetap harus kuhadapi. Baiklah, demi janin dikandungan apapun akan kulakukan, pikirku. 
Dokter dengan perawakan yang tinggi besar, putih ganteng dan juga ramah itu menyambut kedatangan kami dengan senyuman. Tak terlihat wajah lelah sedikitpun diwajahnya. Lagu mozart bervolume rendah begitu menenangkan sebagai kesan pertama yang kutangkap dari ruang prakteknya. 
Segera kusodorkan hasil lab yang sudah kupersiapkan. Beliau tampak tersenyum melihat hasilnya. Kata beliau tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Karena memang hasil tesnya negatif semua. Beliau memintaku untuk berbaring dan di USG. Ekspresi selanjutnya yang kulihat adalah sama seperti dokter langgananku dirumah. Kulihat beliau berulangkali mengulangi pemeriksaan alatnya disertai kernyitan dahi dan juga suara mengecap dari mulutnya. Beliau seperti keheranan melihat sesuatu yang janggal. Sebelum bertanya kenapa, beliau menyuruhku untuk duduk dan menyudahi pemeriksaannya.

Kasus yang istimewa
Dokter Shoffin menemukan bahwa ternyata memang benar ada pembesaran kepala pada bayiku. Beliau juga heran kenapa hal itu bisa terjadi pada janinku. Mengingat hasil tes lab TORCH ku negatif semua. Menurut beliau ini adalah kategori "kasus yang istimewa". Beliau berjanji untuk mendampingiku hingga hari kelahiran itu tiba. Beliau bahkan memberiku "tim khusus" berupa tiga orang dokter. Yaitu beliau sendiri, dokter spesialis bedah, dan dokter spesialis anak (yang juga seorang dosen) sebagai teman curhatku. Oleh beliau, aku disarankan untuk menemuinya sepulangnya dari klinik, setelah sebelumnya beliau menelepon dokter itu.

Teman curhat
Seorang dokter wanita yang ramah dan ayu khas solo itu merekahkan senyumnya ketika kami datang. Dokter yang sampai sekarang aku masih berusaha mengingat namanya itu tempat prakteknya tak jauh dari tempat praktek Dokter Shoffin. Beliau seorang dosen di Universitas Negeri di kota itu. Selain seorang dokter dan dosen, beliau juga mendalami psikologi. Itu sebabnya tadi sbelum pulang dokter Shoffin berkata kalau akan memberiku "teman curhat" yang nyaman. Mungkin inilah maksudnya.

Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Sebuah tempat yang bersih dan penuh mainan ini cocok banget dengan konsep ruang dokter anak sesuai spesialisasi keahliannya. 

Session pertama di dokter anak
Sang dokter mengambil sebuah buku sketch dan mulai menggambarkan sesuatu. Ternyata itu adalah sebuah otak. Beliau mengambarkan syaraf-syaraf otak in details. Setelah menhentikan kegiatan menggambarnya, beliau menatap mataku dan berkata yang intinya adalah setiap otak manusia yang normal berisikan syaraf-syaraf yang sama seperti pada gambarnya. Sedang hasil diagnosa dari surat rujukan dokter Shoffin yang tadi kuberikan padanya, dokter Shoffin bilang kalau ternyata syaraf otak janinku tidak sama. Ini  bisa terjadi karena ada pembesaran pada kepalanya. Syaraf yang seharusnya berkelok-kelok itu yang ada bentuknya lurus. Jauh berbeda dengan otak-otak janin lainnya.
Aku mulai terisak. Dadaku rasanya sesak. Kalau tidak malu, mungkin aku sudah berteriak-teriak. Seperti mengerti kesedihan yang kurasakan, beliau memegang tanganku. Aku tetap tergugu. Pundakku terus saja berguncang. Ditambah kepalaku yang berubah seperti pusaran. 

Pelukan seorang *teman*
Melihatku yang begitu terguncang, beliau merapatkan badan. Kali ini tidak lagi memegang tanganku. Tetapi justru memelukku erat. Seperti pelukan seorang "teman". Setelah agak tenang, beliau bercerita bahwa aku harus sabar dan kuat agar bisa mengahdapi kenyataan. Ada yang sedikit menyentuh ketika beliau bilang bahwa aku masih beruntung. Karena bagaimanapun kondisi bayiku kelak, aku masih bisa merasakan kehadiran buah hati dari rahimku sendiri. Karena ternyata, sang dokter yang cantik itu sampai umur pernikahannya yang sekarang itu tidak pernah bisa hamil. Dan beliau tahu itu, sehingga dia memilih untuk memperdalam ilmunya salah satunya dengan belajar psikologi. Beliau bahkan menasihatiku untuk tidak putus asa. Karena apapun yang sudah diciptakanNYA tak ada yang sia-sia. Beliau memberi contoh beberapa anak dengan kondisi yang akan dimiliki anakku kelak yang telah berhasil menjadi anak berkebutuhan khusus yang hebat dimata masyarakat, juga dunia. Kata beliau, anak khusus ini biasanya diberi kelebihan yang luar biasa di bidang lainnya.
Ada banyak lagi nasihat yang diutarakannya namun aku sudah tidak begitu perduli lagi. Kata-kata dari hasil diagnosanya-lah yang masih snantiasa terngiang disepanjang perjalanan pulang kami dari tempat prakteknya.

Kata-kata penghiburan dari kedua kakakku yang mengantar seperti tidak ada artinya. Yang aku tahu aku sediiiiih. Sangat sedddiih. Titik.

Putus asa
Sesampainya dirumah kakakku (sambil menunggu penanganan, sementara waktu aku mengambil cuti dan domisili dirumah kakakku) aku mengunci diri dikamar dan menangis sejadi-jadinya. 
Yang aku rasakan saat itu adalah "Kenapa Tuhan tidak adil?". Kenapa orang-orang yang dulu pacarannya aneh-aneh itu bisa baik-baik saja hingga melahirkan? Sedang aku yang berusaha menjaga diri dengan baik, kenapa harus menghadapi takdir buruk ini? Kenapa orang-orang yang biasa saja ibadahnya hidupnya seperti tidak pernah bermasalah. Bahkan jauh lebih bahagia? Berawal dari rentetan tanya "kenapa" itulah yang pada akhirnya membuatku  merasa begitu marah pada Tuhan. Marah pada diriku sendiri. Marah pada semua hal yang ada pada diriku. Juga membenci hidupku. Berlari sejauh mungkin lalu terjun dari atas pegunungan yang tinggi atau bahkan menenggelamkan diri kedalam lautan adalah hal yang paling sangat ingin aku lakukan saat itu. Mungkin sebagai salah satu bentuk keputus asaanku menghadapi semua ini. Hingga logikaku seperti tidak bisa berjalan dengan benar.

Kata yang menenangkan dan petuah yang bijak
"Itulah yang namanya takdir. Sejauh apapun kamu berlari, atau sedalam apapun kamu menenggelamkan diri, kamu tidak akan bisa merubah keadaan. Kalau itu takdirmu, dia tidak akan pergi kemana-mana. Akan tetap jadi milikmu" ucap suamiku ketika aku mengungkapkan segenap perasaan putus asaku. 
"Apapun itu, selama kita hadapi berdua pasti akan baik-baik saja" tambahnya.  
Sumpah! Kata-kata itu begitu sangat menenangkan. Jauh lebih menenangkan dari jutaan es krim yang selalu aku harapkan dia kirimkan di setiap hari-hari "sensitif" ku. Hari dimana isinya adalah kecemasan, ketakutan juga kekhawatiranku akan banyak hal (tak salah jika uji psikologku pernah menyatakan bahwa aku adalah seseorang yang memiliki rasa insecure yang tinggi. Hmmmh. Whattafact!)

Hingga disuatu sore yang cerah. Qodarullah, aku tak sengaja melihat sebuah tayangan tv lokal yang berisi sebuah tausiyah. Kalau tidak salah pembicaranya adalah seorang uztadz lokal ternama. Kata beliau : "Jangan pernah berputus dari rahmat Allah". Intinya apapun yang ditakdirkanNYA selalu ada "pesan" disebaliknya. Selalu ada mudah setelah sulit. Ada pelangi setelah hujan. Maka dari itu, jangan pernah berputus dari rahmat Allah. Kurang lebih begitulah pesannya.

Tobat!
Entah mengapa, pesan itu seperti menusuk hingga ke relung hati bagian terdalamku. Jauh melihat kedalam diriku. Tiba-tiba aku merasa sangat berdosa. Betapa sombongnya aku, ketika aku merasa bahwa aku adalah "wanita baik-baik" menurut versiku. Seketika itu juga aku menjadi seseorang yang paling banyak dosanya. Aku bodoh sekali. Terkadang tuhan memberikan cobaan bukan karena tingginya iman. Tapi juga untuk menggugurkan dosa seseorang. Aku mulai mengira-ira dan mengaca pada semua kesalahan yang "mungkin" pernah aku lakukan. Hingga pada akhirnya aku tobat. Menurutku saat itu, hal terbaik yang bisa aku lakukan adalah sholat taubat. Aku menangis sejadi-jadinya ketika menghadap Tuhan. Aku minta ampun untuk semua hal dalam sujud dan tangis yang sangat panjang. Dan berjanji untuk menyelesaikan ngajiku hingga khatam untuk sebulan. Sisa yang aku miliki sebelum menghadapi persalinan.

Tips mengurangi stress
Untuk mengurangi stress aku mulai lebih mendekatkan diri padaNYA. Hari-hariku kuisi dengan mengaji dan mengaji. Mendengarkan pengajian pada tv lokal. Dan menguraikan segala perasaan lewat facebook. Media sosial yang menurutku bisa jadi salah satu tempat curhatku (sebelum aku mengerti kalau ternyata hal itu salah!). Jadi kalau saat itu kalian merasa aku "alay" karena banyak status-status galauku, maafkan ya teman-teman. *ngaku*.
Aku membuat banyak catatan pada facebookku untuk mengurangi perasaan sedihku. Karena aku belum mengenal dunia perbloggingan saat itu. Selain catatan dalam bentuk cerita dan status, ada juga beberapa puisi yang bertebaran bebas di timelineku (sekali lagi, maafkan aku ^^).

Kedelai hitam
Berawal dari facebook, aku bergabung dengan grup Room for Children. Forum yang digawangi oleh dokter-dokter spesialis anak diseluruh Indonesia ini menjadi tongkrongan wajibku di FB untuk mencari ilmu, sebelum menghadapi my "special" child wanabe. 
Disitulah aku tiba-tiba di inbox oleh seseorang anggota dari grup tersebut. Namanya (untuk kesekian kalinya) aku lupa. Mengingat sudah 7 tahun yang lalu dan komitmenku untuk mengurangi hal-hal yang sekiranya tidak begitu penting untuk kusimpan di memori otakku, jadi soal nama aku tidak begitu mementingkan untuk menghapalkannya *ngeles*. 
Yang aku ingat, beliau cerita bahwa dia habis lahiran dengan indikasi terkena toxo di trimester pertama kehamilannya. Beliau mencoba pengobatan China dengan mengunjungi shinse. Dari shinse tersebut, beliau disarankan untuk minum susu kedelai hitam (bukan putih). Dan kata beliau, hingga kelahiran ternyata bayinya bisa normal seperti anak lainnya. Wallahu a'lam bis shawwab. Tidak ada salahnya mencoba resep berikut sebagai pendampingan ketika hamil.

Bagi yang berkenan membuat bahan dan caranya adalah sebagai berikut :
Bahan : - Kedelai hitam (kedelai untuk membuat kecap)
             - Gula batu
             - Air
             - Jahe
Cara : 
Kedelai hitam ini adalah bahan pembuatan kecap. Kedelai hitam tersebut di rendam dulu sebelum diblender. Kemudian hasil blenderan tadi diberi air sedikit-sedikit untuk diperas dan disisakan sarinya (seperti membuat santan untuk sayur), kemudian direbus. Tambahkan gula batu  sesuai selera untuk rasa manisnya dan jahe agar rasanya tidak terlalu "sengur" (jawa).

Sang pemberi resep tersebut bahkan menyatakan bersedia memberi penginapan gratis dirumahnya jika aku ingin diantar berobat shinshe ditempatnya berobat. Beliau merasa sudah terbantu dengan keberadaan shinshe tersebut, jadi sebagai ungkapan syukur karena putranya lahir normal meski kena toxo beliau berniat berbuat baik bagi ibu hamil yang sedang merasakan kecemasan seperti yang pernah dirsakannya dulu. See?! How love spreads around! Feels like God sent an angel to me. Ya, aku merasa bahwa Tuhan mulai mengirimkan malaikat-malaikat baiknya di sekitarku.  And hey, I felt i'm loved. Again!

Try to wake up
Yang selanjutnya terjadi adalah aku mulai bangkit dari segala perasaan terpuruk dan terburukku. Sang uztad benar. Aku tidak boleh berputus dari rahmat Allah. Semua hal baik atau buruk adalah bentuk rahmatNYA (kasih dan sayang NYA). Aku semakin paham bahwa hal yang kualami ini adalah bentuk nyata dari kasih sayangNYA. Kasih sayang yang membuatNYA tidak ingin jauh-jauh dariku. Agar aku selalu dekat kepadaNYA. Selalu memelukNYA pada doa-doa panjang di setiap sujudku.

Hari kelahiran Filza
Akhirnya, tepat tanggal 28 Oktober 2010 atau dua hari setelah peristiwa meletusnya Merapi, Filza Liyana anak pertama kami lahir. Lebih dari tangis bahagia, tangis kesedihan seperti menyelimuti kelahirannya. Dari semua orang yang menangis dibalik punggungku, yang ingin aku lihat hanya wajah suamiku. Aku percaya dia akan jadi satu-satunya orang yang takkan berbohong untuk menjelaskan keadaan filza padaku.
Benar saja, dengan terbata suamiku mengatakan soal kondisi Filza padaku. Juga memberitahuku bahwa anakku sedang berada di ruang NICU  untuk ditangani secara langsung oleh tim dokter yang dipimpin oleh dokter Shoffin. Hari kedua aku baru bisa menemui anakku. Karena tidak memungkinkan bagiku untuk duduk pasca cesar. Untuk itulah aku bersikeras untuk latihan duduk satu hari setelah operasi. Setelah bisa duduk agak lama, aku merajuk untuk diperbolehkan melihat buah hatiku. Aku membuat alasan ingin menemuinya karena aku ingin memberi ASI berkolostrum untuknya. 
Setelah dokter memeriksa kondisi fisik dan psikisku, akupun diijinkan untuk masuk ke NICU.
Berbekal genggaman tangan erat dari suamiku, akupun pergi ke NICU menggunakan kursi roda.

Melihat malaikat kecilku
Hal pertama yang aku lihat bayiku adalah rasa sayang dan kasihan. Aku merasa nelangsa melihat kondisi fisiknya yang berbeda. Bagiku, dia tetaplah bayiku. Bayi mungil yang sangat kunantikan kehadirannya. Aku tidak pernah membencinya. Yang kubenci hanya diriku sendiri. Kenapa aku seceroboh itu hingga akhirnya membuat bayiku terlahir tidak seperti yang lainnya. Aku menciumnya untuk pertama kalinya. Aku gendong dalam pelukan. Pelukan seorang ibu yang "mungkin" bukan ibu yang baik untuknya. Tidak pernah jadi ibu yang baik baginya *hiks* (sumpah, nangis banget waktu nulis bagian ini mengingat hal-hal buruk yang "mungkin" pernah tidak sengaja aku lakukan untuk Filza).

Pulang kerumah
Setelah berada selama 5 hari di RS, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Aku menunggu hingga satu bulan, sebelum akhirnya dokter memastikan bahwa penanganan baru bisa dilakukan ketika berat badan Filza mencapai 5 kilogram. Akupun pulang kembali ke kota asalku. Adapun proses penangannnya yang kelak akan dilakukan itu sudah sangat jauh dari nalar kami. Aku ingin yang terbaik, jadi aku mengiyakan saja anjuran dokter-dokter itu. Sedang kali ini, justru suamiku yang "lebih punya hati". Beliau tidak sanggup kalau melihat Filza yang kondisi fisiknya sedemikian rupa, masih harus di operasi ini itu dihampir seluruh bagian tubuhnya. Anak sekecil dengan kondisi selemah itu baginya itu sulit untuk di logika.
Dengan banyak pertimbangan, suamiku memintaku untuk menyetujui keputusannya untuk menerima keadaan filza bagaimanapun dan apapun yang terjadi akan kami hadapi bersama.

Bicara masa depan 
Aku sempat bimbang dengan keinginan keluarga yang ingin mengoperasi Filza dan keputusan suamiku yang ingin Filza apa adanya. Akhirnya kami berdua berbicara tentang apa yang "mungkin" akan kami hadapi kelak. Ada banyak pertimbangan yang kami miliki, termasuk perasaan keluarga kami. Aku bahkan memiliki rencana untuk menyekolahkan Filza ditempat khusus di Jogja dan menetap disana. Karna malu? Bukan. Saat itu satu-satunya yang aku pikirkan adalah bagaimana cara mengatasi perasaanku sendiri. Aku yang bakalan tidak bisa dan tidak rela mendengar "jika" ada orang yang mengejek kondisi fisik Filza. Jadi, aku harus kuat dulu. Selain itu, bagaimanapun kondisi Filza, aku ingin dia tetap dapat pendidikan dan kehidupan yang normal seperti lainnya. Kalau di kota sekecil tempat kami seseorang anak dengan kondisi seperti Filza termasuk kategori yang sangat sangat minoritas. Kalau di kota besar, meski bukan kaum mayoritas juga, tapi setidaknya ada anak yang memiliki kondisi fisik menyerupainya. Itu logikaku.

Suntik DPT
Setelah beberapa hari dirumah, hal pertama yang ingin kulakukan adalah memberi suntikan kekebalan tubuh untuk Filza. Untuk itulah, aku bermaksud mengimunisasi Filza di dokter anak andalan di kotaku. Ketika sesampainya disana, sang dokter tampak terkejut. Dengan menggeleng beliau mengisyaratkan kalau tidak mau mengimunisasi Filza. Alasannya karena ada pembesaran di kepalanya. Beliau baru mau menginunisasi Filza jika pembesaran di kepala Filza ditangani lebih dulu.
Untuk itulah beliau menyarankan untuk memeriksakan Filza ke seorang professor kenalannya di sebuah RS swasta di Semarang. Sebelum memberi rujukan, dokter ini menelpon kenalannya. Setelah membuatkan janji pertemuan, akhirnya beliau memberi tahuku hari dan jam serta memberikan rujukan untuk sang Professor yang kuketahui bernama Prof. Zainul Muttaqien. 

Apert Syndrome
Sesuai hari dan jam yang telah ditentukan, kami pun menemui Dokter di RS swasta ternama di Semarang. Sembari memegang kepala Filza, beliau memintaku bercerita tentang apa yang terjadi pada Filza. Namun, sebelum itu, beliau menebak apa-apa saja yang jadi "kekurangan" Filza. Kami sempat terperangah ketika beliau berhasil menebak tanpa kami memeberitahukannya lebih dulu.
Selanjutnya beliau menuliskan kata "APERT SYNDROME" diatas selembar kertas dan meminta suamiku untuk browsing melalui HPnya. 
Kemudian beliau menjelaskan bahwa Apert syndrome adalah sindrom langka yang bisa dialami setelah beberapa ratus ribu kelahiran bayi. Jadi setiap beberapa ratus ribu itu ada kasus seperti Filza satu. Penyebabnya? Mutasi Gen. Penyebab mutasi gen? Ilmu kedokteran manapun tak ada yang bisa menjelaskannya. Ibarat kerang yang menghasilkan mutiara, maka ketika ada satu mutiara yang hasilnya bengkok, atau cacat sedikit, maka tidak ada yang pernah tahu sebabnya. Semua adalah rahasiaNYA.
Dokter itu menyuruhku untuk bersabar. Katanya kalau dalam bahasa jawa aku adalah salah satu orang yang sedang "ketiban sampur".  
Perkara hubungan antara virus TORCH dengan kondisi Filza? "Tidak ada! Semua murni karena kuasaNYA", terang beliau dengan tegas. 

Foundation
Aku sedikit lega mendengarkan penjelasan yang bisa lebih kuterima. Sesampainya dirumah, aku iseng browsing dengan kondisi orang-orang yang terkena syndrom yang sama seperti putriku. Dan aku terkejut ketika ternyata di Amerika ada lembaga khusus yang menangani penderita Apert ini. Mereka tampak hidup dengan normal dan bahagia disana. Karena kata dokter kejadian ini beliau alami per dua tahun, maka aku browsing mencari orang terakhir yang terkena syndrome ini. 
Dan adalah seorang bayi perempuan dari philipina yang tercatat terkena syndrome ini. Bayi dari Filipina ini lah yang kemudian mendapatkan foundation di Amerika. Mereka sekeluarga akhirnya menetap di Amerika. 
Berangkat dari hal itu, aku sempat mengirimkan email ke foundation tersebut. Berharap ada seseorang disana yang membaca email dariku dan bersedia memasukkan Filza sebagai anggota kelompok mereka yang dapat penghidupan, pendidikan serta kehidupan sosial yang selayak penderita lainnya. Tentu saja bersama kami, orang tua yang sangat mencintai dan akan tetap mendampinginya. 

Hari nahas Filza
Karena sekarang penyakit Filza sudah jelas, maka untuk mencegah hal-hal yang tidak kuinginkan terjadi, aku membawa Filza ke seorang bidan dekat rumah untuk suntik DPT. Mengejar ketinggalan imunisasi-imunisasi yang seharusnya sudah diterimanya dari satu bulan sejak kelahirannya.
Malamnya Filza mengalami demam. Kondisi yang wajar dialami bayi pasca suntik DPT. Bu bidan juga sudah memberitahuku akan hal itu. Beliau sudah memberiku obat penurun panas sebagai upaya pencegahannya.
Benar saja, malamnya Filza demam. Dan setiap malam seperti itu. Aku sempat memeriksakannya kembali ke dokter spesialis anak, namun seperti tidak ada hasilnya. Filza tetap saja demam. Namun anehnya, tiap pagi dia baik-baik saja. Kalau malam saja demamnya. Hal itu berlalu setiap malam. Aku dan ibu yang bergantian jaga. Karena Filza benar-benar tidak bisa lepas dari gendongan, jadi kami melakukannya bergantian. Bahkan pernah pada  suatu malam, kulihat ibuku pegangan gagang almari biar tidak ambruk karena saking capeknya (Thanks, Mom. You're my trully ANGEL. The best angel i've ever had). 
Hingga akhirnya kemudian kami membawanya untuk opname di RS swasta di kota kami. Tanggal 14 Mei 2011 tepat jam 07.25  pagi, Filza kami, buah hati kami, malaikat kecil kami itu menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir.

Ah, Filza. Meski aku tahu aku bukan ibu yang baik untukmu. Terlepas aku adalah ibu yang baik atau buruk menurutmu. Tapi entahlah, jauhhh disuatu hari nanti aku tetap selalu berharap bahwa kelak, kamu dan huzzi (adik filza yang juga sudah meninggal dunia) tetap mau memelukku. Menciumku. Mengijinkanku menggendong kalian satu persatu. Aamiin.


My apert syndrome baby
Ilarruhi Filza Liyana...Huzzi Firdaus Alharits... Bismillah... alfaatihah


















rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog