"Pyarrrr" aku terkesiap seketika mendengar suara kaca pecah yang diikuti oleh erangan kesakitan lelaki yg kukejar barusan.
Aku tidak tahu bagaimana kronologisnya secara detil. Tapi sejauh pandangan mataku kulihat ia melompat jendela kelas untuk menghindari kejaranku sebelum akhirnya entah bagaiman tiba-tiba sudut kaca jendela itu pecah dan mengenai pelipisnya. Membuat kaca jendela kelas itu terberai berantakan di bawah lantai.
Sontak seluruh penghuni kelas berkerumun. Setelah ada yang melaporkan, tak seberapa lama aku dan lelaki itu pun digiring menuju salah satu ruangan paling menyeramkan di sekolah ini "Kantor BP". "Huh! Aku mendengus kesal. Ini kan tak seharusnya jadi salahku. Siapa suruh dia mengejekku!" dengusku kesal.
Aku menyeret langkah gontai menuju sebuah "kantor" kecil yang ada di sebelah perpustakaan tua jaman peninggalan Belanda yang terlihat "angker" - dalam arti yang sebenarnya itu. Tepat didepan mejanya, bu Karyati, nama guru BP itu pun menanyai kami. Terkait apa yg sudah terjadi. Kamipun menceritakan sesuai dengan versi kami masing-masing.
Aku diam. Mataku sudah semakin menyudut. Air mata yg memulai membayang sudah pasti sebentar lagi akan jatuh melihat dua buah surat di tangan bu guru BP itu.
Surat pemanggilan untuk kedua orangtua kami! Hiks.
...
Sepulang sekolah, aku mengangsurkan surat dari guru BP ku kepada Ibu.Ibu sempat bertanya kenapa aku sampai di panggil di BP dan aku hanya menjawab ada insiden kecil. Besok aku cerita kalau ada guru BPku. Setelah selesai membaca, Ibu tampak bergumam menyebut nama pemilik tandatangan. Dan aku beruntung! Ternyata ibuku kenal. Jadilah aku merengek untuk menemui guru BP ku kerumahnya saja. Setelah berpikir sebentar ibu menyetujui ideku. Jadilah sore itu aku ke rumah bu Karyati beserta Ibuku. (Untung ibuku mau. Coba kalau harus beneran datang ke sekolahan aku pasti malu😥)
...
Setelah berbasa basi sejenak mengungkap kekangenan mereka berdua yang ternyata adalah dua sosok kawan lama, akhirnya aku mendapat giliran untuk bercerita.
Ketika ditanya kenapa aku mengejar teman lelaki di kelasku, aku menghela nafas sebentar lalu melirik ibuku dengan perasaan bersalah.
"Karena dia menyebut namaku dengan nama ibuk, bu!"
Ibu tampak terkejut. Raut mukanya terlihat kebingungan dan tidak enak untuk di lihat. Tapi beliau hanya mengangguk tanpa kata dan ikut tersenyum mendengar "nasihat" dan persetujuan yg harus disepakati oleh aku, ibu dan orangtua teman lelaki ku itu besok. Setelah itu, kamipun pamit pulang.
...
Sepanjang perjalanan pulang tak banyak yang beliau katakan. Beliau hanya berpesan untuk tidak membalas perbuatan buruk siapapun. Kita akan sama buruknya kalau membalas perbuatan buruk orang lain ke kita.
Itu yang aku ingat. Selalu kuingat.
Ah memori waktu itu langsung menguar ketika harus menuliskan sosok tentang IBU untuk #arisanbloggandjelrel yang ke 17. Tema yg diberikan oleh duo blogger yg sama2 berprofesi sebagai pendidik. Yang satu Mbak Chella seorang guru SD yg media mengajarnya sering aku kepoin. Ikut mencari teknik dan strategi pembelajaran yg sekiranya tepat untuk menaklukkan anak2 didikku seperti cara Mbak chela mengajar anak didiknya.
Pun juga mba noorma yg merupakan seorang dosen dengan mahasiswa/i nya di pekalongan sana. Aaahk, dulu pernah bercita2 pengen jd dosen. Sayang cita2 untuk S2 ku masih dlm sebatas pikiran saja😊
Ketika mereka berdua kompak mengusung tema tentang ibu dalam rangka menyambut hari Ibu tanggal 22 desember nanti. Maka memori tentang cerita diataslah yang pertama kali muncul untuk ikut unjuk rasa.
...
Baca juga : Ibu, hiduplah lebih lama untukku
Ibuku, ibuku, ibuku. Ibuku adalah orang yg selalu mengajariku untuk terus jadi orang baik dengan berbuat baik. Yang selalu mengajariku untuk tidak membalas setiap perbuatan buruk selain dengan perbuatan baik. Meski terkadang membuatku seperti lemah. Tapi kata2nya selalu benar, bahwa setiap kebaikan selalu mendapatkan balasan. Pun juga perbuatan buruk. Akan selalu ada karmanya.
Ibuku, ibuku, ibuku. Ibuku itu adalah orang yang selalu kupercaya akan kekuatan doa2nya untukku. Yang selalu mengingatkanku untuk melakukan hal yang sama untuk keluarga kecilku. Yaitu untuk terus mendoakan suami dan anak2ku.
Ibuku, ibuku, oh ibuku. Ibuku itu adalah orang yang akan ku bela ketika ada oranglain yg mencercanya. Yang akan membuatku berani untuk membalas perbuatan orang yg sudah menyakitinya tanpa perlu kupeduli dia itu siapa. Karna bagiku ibuku adalah surga. Sebagaimana aku selalu di ajarkan. Dia adalah cinta pertama sebagaimana aku yang selalu dia utamakan.
Sehat-sehat dan baik-baik terus ya, bu. Semoga Allah selalu memberimu kekuatan, kesehatan, perlindungan dan keberkahan untuk setiap hal yang sudah kau berikan.
Meski ada banyak rasa cinta yg tak pernah kukatakan. Tapi kutau kau tau bahwa aku selalu mencintaimu 😊😊
Baca juga : Ibu terburuk sedunia






Bagi kamu yang menyukai kopi bubuk tanpa gula, maka Kapal Api Special Kemasan Sachet ini jawabannya! Takarannya udah pas banget untuk sekali seduh. Bikinnya pun mudah. Kamu hanya perlu menuangkan air panas (90-95°C) sebanyak ±200 ml untuk mendapatkan secangkir kopi Kapal Api ini.






















